Berakar dalam pengharapan
Bacaan: Roma 5:1–5
Ayat kunci: “Dan pengharapan tidak mengecewakan.” — Roma 5:5
Ada masa ketika hidup terasa seperti tanah yang kering. Kita sudah berdoa, berusaha, dan menunggu, tetapi jawaban belum juga terlihat. Dalam keadaan seperti itu, hati mudah bertanya: apakah Tuhan masih bekerja? Firman Tuhan mengingatkan bahwa pengharapan Kristen bukan sekadar keinginan agar keadaan berubah. Pengharapan adalah keyakinan bahwa Allah tetap setia, bahkan ketika kita belum dapat melihat seluruh jalan yang sedang Ia bukakan.
Paulus tidak mengatakan bahwa orang percaya akan terbebas dari kesesakan. Ia justru menjelaskan bahwa kesesakan dapat membentuk ketekunan, tahan uji, dan pengharapan. Ini bukan berarti kita harus menyukai penderitaan atau berpura-pura kuat. Tuhan mengundang kita untuk membawa seluruh pergumulan kepada-Nya dengan jujur. Di dalam tangan-Nya, air mata, penantian, dan kegagalan tidak menjadi sia-sia. Semua itu dapat dipakai untuk menumbuhkan akar iman yang lebih dalam.
Pohon yang berakar kuat tidak selalu tampak berbeda pada hari-hari biasa. Namun ketika angin kencang datang, kita melihat perbedaannya. Demikian juga iman yang terus dipelihara melalui doa, firman, dan ketaatan sederhana akan menolong kita berdiri saat keadaan berguncang. Hari ini, jangan ukur kesetiaan Tuhan hanya dari cepatnya jawaban doa. Ukurlah dari karakter-Nya yang tidak berubah dan dari penyertaan-Nya yang tetap ada.
Renungkan: Di bagian hidup mana saya sedang kehilangan harapan? Apakah saya bersedia menyerahkan jadwal dan cara jawaban itu kepada Tuhan? Langkah kecil apa yang dapat saya lakukan hari ini sebagai tanda bahwa saya masih percaya?
Doa: Tuhan, ketika hatiku lelah menunggu, tanamkan pengharapan yang berakar dalam kasih-Mu. Tolong aku untuk tetap setia dalam hal-hal kecil, jujur dalam doa, dan percaya bahwa Engkau sedang bekerja meski belum semuanya terlihat. Amin.
Praktik hari ini: Tuliskan satu pergumulan yang sedang menekan hati. Di bawahnya, tuliskan tiga bukti penyertaan Tuhan yang pernah kamu alami. Bacalah kembali saat rasa takut muncul.
Kembali ke Renungan