Melangkah dengan syukur
Bacaan: 1 Tesalonika 5:16–18
Ayat kunci: “Mengucap syukurlah dalam segala hal.” — 1 Tesalonika 5:18
Syukur bukan perintah untuk menyebut penderitaan sebagai sesuatu yang baik. Firman Tuhan tidak meminta kita bersyukur atas ketidakadilan, kehilangan, atau luka seolah-olah semua itu tidak menyakitkan. Syukur berarti mengakui bahwa di tengah segala sesuatu, Tuhan tetap hadir dan kebaikan-Nya belum berhenti. Kita dapat menangis sekaligus bersyukur, merasa lelah sekaligus percaya, dan mengakui kesulitan tanpa kehilangan pandangan terhadap kasih karunia.
Kebiasaan bersyukur melatih mata rohani kita. Tanpa disadari, perhatian kita mudah terkunci pada apa yang kurang, salah, dan belum selesai. Ketika kita menyebutkan berkat dengan sengaja, kita tidak sedang mengabaikan masalah. Kita sedang menolak membiarkan masalah menjadi satu-satunya suara dalam hati. Secangkir kopi, orang yang mendoakan, tubuh yang masih diberi kekuatan, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, atau matahari pagi dapat menjadi pengingat bahwa Tuhan hadir melalui hal-hal sederhana.
Syukur juga mengubah cara kita memperlakukan orang lain. Orang yang menyadari bahwa hidupnya adalah anugerah akan lebih mudah berbagi, mengucapkan terima kasih, dan tidak menuntut semuanya sesuai keinginannya. Hari ini mungkin tidak sempurna, tetapi tetap merupakan ruang yang Tuhan percayakan. Jalani dengan setia, bukan dengan membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain.
Renungkan: Berkat apa yang selama ini saya anggap biasa? Kepada siapa saya perlu mengucapkan terima kasih? Apakah saya mampu mempercayakan hari esok setelah melakukan tanggung jawab saya hari ini?
Doa: Tuhan, terima kasih untuk napas, kesempatan, dan penyertaan-Mu. Ajarlah aku melihat anugerah dalam hal-hal sederhana. Saat keadaan tidak sesuai harapan, peliharalah hatiku agar tetap percaya dan tidak kehilangan sukacita di dalam-Mu. Amin.
Praktik hari ini: Buat daftar lima hal yang kamu syukuri. Untuk setidaknya satu hal, ungkapkan syukur itu langsung kepada orang yang terlibat di dalamnya.
Kembali ke Renungan