Berdasarkan Rancangan Program Renstra, pelayanan Anak Sekolah Minggu dilaksanakan melalui program-program berikut.
1. Ibadah dan pembinaan ASM berbasis Kurikulum
Ibadah ASM dilaksanakan rutin setiap minggu menggunakan bahan ajar berbasis Kurikulum 5B. Materi disampaikan sesuai kelompok usia melalui cerita Alkitab, lagu, doa, permainan, seni, drama, percobaan sederhana, dan proyek pelayanan. Sasaran umumnya adalah sekurang-kurangnya 70 persen program ibadah telah menggunakan bahan ajar berbasis kurikulum.
Bahan ajar YESUS JURUSELAMATKU menjadi pedoman Guru Sekolah Minggu. Setiap pertemuan menyertakan lembar “Oleh-Oleh Iman” sebagai jembatan antara gereja dan rumah. Orang tua dianjurkan hadir pada bagian penutup untuk berdoa bersama anak dan menerima penjelasan singkat mengenai pembelajaran minggu itu.
2. Penerbitan bahan atau modul ajar PELKA
Bahan ajar bagi PKB, WKI, Pemuda, Remaja, dan ASM disusun mengikuti silabus dan diterbitkan setiap triwulan. Khusus ASM, materi perlu dibedakan menurut tiga kelompok usia dan dilengkapi panduan aktivitas serta “Oleh-Oleh Iman”. Target program adalah:
- bahan ajar tersedia sebelum awal setiap triwulan;
- empat paket bahan ajar diterbitkan setiap tahun;
- materi terdistribusi dan digunakan di seluruh jemaat; dan
- skor ketersediaan bahan ajar ASM meningkat menjadi sekurang-kurangnya 4,00 dari 5 pada 2031.
3. Kemah Ceria Anak Sekolah Minggu
Kemah Ceria merupakan kegiatan pembinaan yang dirancang sebagai pengalaman iman yang aman, gembira, kreatif, dan berkesan. Pelaksanaan dilakukan pada aras Sinode secara berkala dan dapat dilanjutkan pada aras Wilayah atau Rayon. Rancangan Program menargetkan agar sekurang-kurangnya 80 persen anak mengenal dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Materi Kemah Ceria mencakup:
- ibadah pembukaan dan permainan yang membangun kebersamaan;
- cerita Alkitab serta petualangan iman yang interaktif;
- workshop kreativitas seperti melukis, kerajinan, drama, musik, dan aktivitas bertema berkat;
- outbound ringan yang menanamkan kerja sama, kejujuran, dan saling menolong;
- pameran karya anak dan keterlibatan orang tua; serta
- ibadah penutup, pembagian sertifikat, dan evaluasi kepuasan orang tua.
4. Temu Raya Anak Sekolah Minggu SAG Suluteng
Temu Raya Anak Sekolah Minggu menjadi ruang perjumpaan, pembinaan, dan persaudaraan anak lintas gereja dalam jaringan SAG Suluteng. Rancangan Program menetapkan GPIG sebagai tuan rumah pada 2029. Kegiatan perlu mengutamakan ibadah anak, cerita Alkitab, ekspresi seni, permainan persahabatan, perlindungan anak, serta pengalaman ekumenis yang sesuai usia.
Keikutsertaan anak, guru, orang tua, dan pendamping perlu dikelola dengan prosedur keamanan yang jelas, termasuk pendataan peserta, rasio pendamping, kesehatan, transportasi, dokumentasi, dan penanganan keadaan darurat.
5. Pelatihan dan Sertifikasi Guru Sekolah Minggu
Pelatihan dilaksanakan secara bertahap dari 2027 sampai 2031 dengan target minimal satu Guru Sekolah Minggu tersertifikasi di setiap jemaat. Program mencakup penyusunan modul standar, pelatihan bergilir, evaluasi penerapan, sertifikasi, dan pembangunan database GSM tersertifikasi.
Materi pelatihan mencakup:
- panggilan, etika, dan integritas Guru Sekolah Minggu;
- psikologi perkembangan anak dan pendekatan untuk setiap kelompok usia;
- teknik bercerita Alkitab serta metode aktif melalui permainan, lagu, seni, drama, dan proyek;
- perencanaan program berbasis Kurikulum 5B dan pelibatan orang tua;
- penggunaan teknologi, AI, ilustrasi, dan media audio-visual secara bijak; serta
- inklusivitas, pelayanan anak berkebutuhan khusus, pengenalan tanda trauma, dan prosedur perlindungan anak.
6. Program Gereja Ramah Anak dan pengadaan perlengkapan ASM
Program Gereja Ramah Anak bertujuan membangun ruang atau pojok ASM yang aman, bersih, berwarna, menyenangkan, mudah diakses, dan memiliki perlengkapan dasar. Pelaksanaannya dimulai dengan penyusunan standar dan lima jemaat pilot pada 2027, kemudian diperluas secara bertahap hingga minimal 25 jemaat memiliki ruang atau pojok anak standar pada 2031.
Pengadaan perlengkapan ASM dilakukan secara bertahap bagi jemaat prioritas, meliputi meja-kursi anak, papan tulis, alat permainan edukatif, media ajar, perlengkapan seni, proyektor mini, serta bahan ajar. Program diarahkan agar seluruh jemaat memiliki perlengkapan standar minimum pada 2031.
Standar Gereja Ramah Anak juga perlu mencakup:
- prosedur perlindungan anak dan kode etik pelayan anak;
- pendataan anak, guru, serta kontak orang tua;
- lingkungan yang inklusif bagi anak berkebutuhan khusus;
- sanitasi, keamanan ruangan, dan jalur evakuasi;
- mekanisme pelaporan serta rujukan kasus; dan
- evaluasi berkala bersama anak, orang tua, GSM, dan Majelis Jemaat.